DARPA Kembangkan Senjata Glide Breaker, Penembak Rudal Rusia dari Luar Angkasa




Berita Militer Indonesia - Amerika Serikat (AS) sedang mengembangkan gelombang baru sistem pertahanan yang akan menembak target rudal musih, termasuk milik Rusia, dari luar angkasa. Program yang dikenal dengan nama "Star Wars" ini digagas Presiden Ronald Reagan.

Pada 1980-an, Presiden Reagan memiliki tujuan untuk membawa Perang Dingin melawan Uni Soviet ke luar angkasa melalui skema Strategic Defence Initiative (SDI atau Inisiatif Pertahanan Strategis).

Dijuluki "Star Wars", skema itu akan melihat pembangunan sistem pertahanan rudal untuk melindungi AS dari serangan senjata nuklir. Selama bertahun-tahun program yang digagas Reagan itu tidak pernah direalisasikan.

Namun, karena ketegangan antara AS dan banyak negara adidaya saingannya meningkat, ide Reagan mulai diwujudkan secara bertahap.

Para komandan militer AS sedang menciptakan sistem pertahanan Glide Breaker yang dirancang untuk menghentikan rudal-rudal hipersonik dan supersonik pada busur awal rute mereka yang lewat di luar atmosfer Bumi.

Badan Proyek Penelitian Pertahanan (DARPA) Pentagon memamerkan sistem pencegat baru dalam Simposium D60 pada bulan September lalu. Simposium D50 digelar untuk meramaikan ulang tahun ke-60 DARPA.

"Tujuan dari program Glide Breaker adalah untuk meningkatkan kemampuan Amerika Serikat guna mempertahankan diri terhadap (senjata) supersonik dan seluruh kelas ancaman (senjata) hipersonik," kata DARPA dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Daily Star, Senin (8/10/2018).

“Kepentingan khusus adalah teknologi komponen yang secara radikal mengurangi risiko untuk pengembangan dan integrasi sistem operasional, hard-kill," lanjut DARPA.

Editor pertahanan Aviation Week; Steve Trimble, kepada Daily Star, menjelaskan mengapa generasi baru senjata berkecepatan tinggi telah membuat jelas bagi bos militer AS tentang perlunya mengembangkan sistem pertahanan baru.

"Ancaman baru yang berpotensi diajukan oleh rudal hipersonik tak hanya terbatas dalam ruang lingkup, tetapi juga dalam beberapa hal lebih menantang," ujarnya.

"Tidak seperti rudal dengan lintasan balistik yang dapat diprediksi, rudal hipersonik lebih lambat tetapi bermanuver dalam cara yang tak terduga, yang sangat mempersulit masalah dalam upaya menembak jatuh," paparnya.

"Anda dapat secara tepat menghitung seluruh jalur penerbangan dari roket balistik setelah diluncurkan setelah Anda membuat beberapa bit data," kata Trimble.

"Anda tidak bisa melakukan itu dengan senjata hipersonik yang memiliki kemampuan untuk manuver menggunakan aerodinamis, sebagai lawan dari kekuatan balistik murni."

Sebagai ahli senior di bidang penerbangan dan rudal, Trimble menjelaskan bahwa bagi banyak orang di AS, ancaman era Perang Dingin masih sangat nyata.

"SDI Reagan, juga dikenal sebagai Star Wars, ditujukan untuk melawan ancaman eksistensial yang ditimbulkan oleh ribuan rudal balistik Soviet dengan hulu ledak nuklir," imbuh dia. "Ancaman itu masih ada."

Dan dia mengatakan sistem pertahanan rudal AS saat ini tidak siap untuk menghadapi ancaman rudal hipersonik atau supersonik musuh.

"Pertahanan yang kami miliki bertujuan untuk menembak jatuh sejumlah kecil rudal balistik, yang merupakan ancaman terbatas pada apa yang disebut sebagai negara-negara 'nakal' seperti Korea Utara dan Iran," katanya.

Baru-baru ini, Trimble mengatakan kepada Daily Star mengapa AS, Rusia, dan China memicu perang dingin kedua dengan meningkatnya pengembangan rudal hipersonik baru mereka.

Laporan ini muncul ketika Rusia sudah mamemarkan senjata hipersonik terbarunya yang dapat mencapai target hingga 250 mil jauhnya. (Muhaimin)

Translate

Iklan Atas Artikel

banner%2Bfb.png

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

banner%2Bfb.png
close
== [Close] ==